WESTERNISASI (4)

alih bahasa: arif fortuna
A. Pengkaderan Pimpinan Sekularis dengan Misi Pemarginalan Umat dari Prinsip Islam

1. Khudaiwi Ismail , ia pernah mengenyam pendidikan di Perancis , kemudian kembali ke Mesir guna menduduki jabatan di pemerintahan dan fokus utamanya adalah menjadikan Mesir sebagai bagian Eropa. Sayangnya, ia hanya sekedar mengadopsi style dan tampilan Eropa sementara pengalaman dan nilai-nilai berharga lain luput dari sorotannya. Diantara program-program rancangannya:

a. Pembangunan istana-istana, kebun-kebun dan teater-teater megah yang menghabiskan banyak anggaran negara.
b. Menghabiskan milyaran dana anggaran untuk acara peresmian sebuah siaran televesi Swiss tahun 1869 dan mengajak beberapa orang pimpinan negara Eropa untuk turut bekerjasama. Walhasil ia terpaksa menjual sebagian wilayah Mesir agar dapat memiliki saham di televisi milik musuhnya.
c. Mendirikan panggung opera dan mendatangkan musisi-musisi dari Eropa.
d. Mendirikan sebuah sekolah hukum dengan pola Perancis. Sekolah ini merupakan sumber pencetak generasi Islam yang sangat familiar dengan hukum konvensional, sekolah ini pada gilirannya berkembang menjadi fakultas hukum.
e. Memaksakan pelaksanaan hukum-hukum konvensional di negara, terbukti dengan pendirian mahkamah campuran, yaitu pengadilan-pengadilan yang mayoritas hakimnya adalah warga asing dan undang-undang yang diterapkan adalah undang-undang hukum Perancis yang ia sadur dari seorang pengacara Perancis Monori dibawah pimpinan seorang berkebangsaan Armenia Novar Pasa . Peristiwa ini terjadi tahun 1875, oleh karenanya warga negara asli bagaikan tamu di negeri sendiri serta harus tunduk pada pengadilan semacam ini .

Pemerintahan Khudaiwi Ismail di Mesir telah menimbulkan kekacauan dan krisis perekonomian serta membuka pintu loyalitas Mesir terhadap Barat dalam tataran hukum dan militer.



2. Saad Zaglul

Populer sebagai seorang sekuleris, Inggris sengaja membebaskannya dari tempat pengasingan tahun 1919 supaya dapat mengendalikan pemberontakan rakyat Mesir terhadap Inggris yang dipelopori Al-Azhar. Setelah pembebasannya, Saad mengajak rakyat untuk mengikuti frame berpikirnya yang sekuler. Saad mendapatkan kepercayaan memegang kendali pemerintahan di bawah imperealis Inggris. Ia mendirikan partai al-Wafd yang mengusung paham sekularisme dan ia menjadikan slogan persatuan nasional dengan dakwaannya menjaga perasaan kaum minoritas Nasrani.

Saad Zaglul lahir tahun 1860 dan meninggal tahun 1927, ia pernah diangkat sebagai kepala bagian perpolitikan di sekolah Barat yang dibangun oleh otoritas asing pasca penjajahan dengan mengemban misi loyalitas siswa terhadap pemikiran Barat dan menilai Islam sebagai agama ibadah dan agama masjid saja serta bukan aturan komperhensif kehidupan .

Diantara bentuk loyalitas Saad Zaglul terhadap Barat:

Ketika menjadi pejabat pada kementerian Pendidikan, Saad tidak berupaya mengamandemen kurikulum pendidikan Mesir yang merupakan hasil rancangan Inggris ketika masa penjajahan. Karena menurutnya Inggris adalah negara maju. Saad menetang pergerakan Nasional di Mesir, ia juga yang telah menyerahkan Muhammad Farid ke pengadilan, dia memberikan ruang bagi sekularisme untuk mengambil peran dalam percaturan politik Mesir setelah peristiwa Perang Dunia II, tidak ketinggalan juga arus westernisasi yang mendominasi percaturan politik, ekonomi dan sosial. Dia pernah dikabarkan punya kaitan dengan gerakan Marxisme. Buktinya, ketika pemakaman Saad hadir beberapa orang delegasi Marxisme sebagaimana dilansir dalam sebuah koran al-Maqtham dan majalah Al-Musawwar.

Untuk lebih mendalam, silahkan kaji referensi dan literatur berikut:

 Hushununa Muhaddadah min ad-Dakhil oleh DR. Muhammad Muhammad Husein
 Al-Ittijahat al-Wathaniyyah Fi al-Adab al-Mu’ashir oleh DR. Muhammad Muhammad Husein
 Al-Islam wa al-Hadharah al-Ghorbiyyah oleh DR. Muhammad Muhammad Husein
 Tarikh ad-Da’wah ila al-‘Amiyah wa Atsaruha fi Misr oleh DR. Nufusah Zakaria
 Al-Alam al-Islamy wa al-Makaid ad-Duwaliyyah Khilal al-Qarn ar-Rabi’ Asyar al-Hijry oleh Fathi Yakan
 Syubuhat at-Taghrib fi Ghazw al-Fikry al-Islamy oleh Anwar al-Jundy
 Yaqdzah al-Fikry al-‘Araby oleh Anwar al-Jundy
 Zu’ama al-Ishlah fi al-‘Ashr al-Hadits oleh Ahmad Amin.
Buku-buku terjemahan:

 Hadhir al-Alam al-Islamy
 Al-Gharah ‘ala al-Alam al-Islamy
 Ila aina Yattajih al-Islam

B. Westernisasi Media Informasi

Media informasi dengan beragam variasi baik tertulis, visual, audio maupun audio visual berdampak sangat besar dalam membentuk opini publik dan mengarahkan khalayak. Menyadari hal itu, Barat tidak menyia-nyiakan kesempatan berharga ini, mereka berupaya menjadikan media informasi sebagai alat pelayanan penyebaran misi-misi mereka, Barat menunjuk kader-kader khusus pengelola media untuk memainkan skenario yang telah mereka rencanakan. Sejauh ini Barat telah berhasil mewujudkan impian mereka.

Orientalis Inggris “Gibb” menguraikan urgensi media massa bagi agenda westernisasi yang mereka lancarkan: “Guna mencapai keberhasilan yang lebih, yaitu keberhasilan yang tidak hanya secara kasat mata, maka tidak cukup dengan keberadaan institusi-institusi pendidikan saja, tapi konsentrasi harus dialihkan pada pembentukan opini publik, jalan satu-satunya media massa. Kemudian dia melanjutkan: "Media massa merupakan mediasi Barat paling ampuh dalam mengusai dunia Islam" .

Gibb kemudian membeberkan pencapaian ghazwul fikri melalui media massa:“Aktifitas pendidikan dan kebudayaan melalui institusi-institusi pendidikan kontemporer dan media massa telah meninggalkan dampak negatif terhadap umat Islam tanpa mereka sadari. Secara umum style mereka hampir menyerupai orang-orang atheis, yang merupakan inti semua manuver perjuangan Barat menggiring dunia Islam pada peradaban mereka. Diantara dampaknya, fungsi Islam sebagai aqidah masih bisa dirasakan tapi fungsi Islam sebagai sebuah kekuatan pengatur kehidupan sosial telah mulai pudar, disamping ada faktor lain yang membantu ke arah itu, faktor itu karena banyak dijumpai benturan kehidupan sosial dengan prinsip dan ajaran Islam. Akhirnya Islam kehilangan taring menghadapi fakta kehidupan sosial yang muncul sehingga lama-kelamaan wilayah otoritasnya semakin sempit dan terbatas pada aspek-aspek tertentu .
Orang-orang Kristen merupakan generasi pertama yang berkonsentrasi terhadap media massa di Mesir seperti: George Zaidan (sang pemalsu sejarah Islam) , Salim Taqla (pendiri majalah Al-Ahram), Ya’qub dan Fuad Shoruf pemilik Dar al-Muqtathaf. Semuanya media kaum penjajah dan misionaris . Ada lagi fungsi dan efek mencolok dari media massa dewasa ini yaitu pemformatan rasio dan emosi publik agar berjalan sesuai keinginan Barat dalam arus westernisasi. (Media informasi di negeri-nageri Islam telah dan akan selalu berada dalam peperangan sengit menentang agama dan umat Islam disamping provokasi dan motivasi untuk tunduk pada orang kafir) . Kepentingan yang dijadikan komoditi media massa adalah mempublikasikan perbuatan keji, tindakan pidana, upaya pengrusakan mental, lalu bagaimana mungkin akan muncul setelah itu bangunan infrastruktur muslim yang kokoh) .

Koran harian, majalah mingguan dan bulanan dipenuhi berita-berita yang dapat menimbulkan kerusakan dan perbuatan-perbuatan tercela, khususnya majalah-majalah yang berbicara tentang dunia seni, perfilman, pagelaran. Halaman-halaman berita yang dihiasi peristiwa-peristiwa bernada hasutan, lembaran khusus berbicara tentang sport yang banyak menyibukkan pikiran dan waktu para pemuda dengan hal-hal yang kurang produktif. Kebanyakan orang berasumsi bahwa misi majalah dan koran ini adalah menyibukkan masyarakat dengan kesalahan penyelenggara pemerintahan, positifnya memberikan suasana santai melepas kepenatan tapi dampak negatifnya yang berbahaya adalah menjauhkan masyarakat dari Islam dan mewarnai kehidupan mereka dengan etika dan perilaku yang tidak relevan dengan nilai-nilai etika Islami.

C. Provokasi Wanita Muslimah

Setelah melakukan pengkajian terhadap masyarakat Islam, Barat memahami faktor-faktor kekuatan dan komitmen umat Islam meskipun mereka dihadapkan pada banyak tantangan, diantara komitmen tersebut ialah perhatian total ibu muslimah dalam pendidikan anak, pemeliharaan kehormatan dan harga diri keluarga serta menghindari kemungkinan mereka dicap sebagai keluarga yang menimbulkan keresahan di tengah masyarakat. Selama beberapa dekade wanita muslimah telah terbukti mampu mendidik generasi dan menanamkan kerelaaan berkorban demi perjuangan di jalan Allah serta membekali mereka dengan sifat bijaksana, patriotisme, dan kesatria. Sepanjang sejarah, umat Islam tidak pernah absen melahirkan para pahlawan pemberani pengusung bendera jihad yang menyebabkan Islam tetap bertahan menghadapi kekuatan-kekuatan lalim dan diktator seperti salibis, Tatar dsb. Masyarakat Islam masih mampu mempertahankan eksistensinya meskipun berada dalam tekanan dan kemunduran ilmu pengetahuan.

Karena alasan ini, Barat segera merencanakan skenario dan misi pengrusakan pemikiran, etika dan moral wanita muslimah yang pada gilirannya akan melemahkan dan mencegah peran keluarga muslim dalam mendidik anak-anaknya ke arah yang benar, makanya bermunculan berbagai propaganda yang ditujukan pada wanita muslimah dalam upaya provokasi meninggalkan etika dan kebiasaan yang telah dianut wanita muslimah semenjak lama dan telah terbukti mampu menjaga kehormatan, kemuliaan dan harga diri mereka. Ini semua merupakan salah satu faktor penopang kekuatan umat Islam. Propaganda ini terprogram dalam beragam pola dan frame yang jelas-jelas menyamarkan niat busuk yang akan menghancurkan wanita, agama dan masyarakat Islam.

o Dengan label kebebasan, wanita muslimah mencopot jilbab dan menampakkan bagian tubuh mereka yang tidak diperkenankan untuk ditontonkan pada khalayak.
o Atas nama pendidikan dan pencerahan, kaum hawa keluar rumah mengikuti pergaulan dalam kehidupan sosial di jalan-jalan, angkutan umum, sekolah-sekolah, universitas-universitas dalam keadaan membuka sebagian aurat dan bergaya layaknya wanita-wanita Barat yang buka-bukaan.
o Atas nama emansipasi, wanita muslimah berpartisipasi aktif dalam bermacam perkumpulan, arisan, bioskop, pagelaran dan tempat-tempat hiburan.
o Atas nama persamaan derajat dengan kaum pria, wanita turut bersaing dengan para pria dalam berbagai lapangan pekerjaan seperti: media massa, seminar-seminar dan kongres-kongres. Mereka pun menyandang gelar tertentu serta tak ketinggalan pula, mencalonkan diri dalam pemilihan umum.
o Atas nama keikutsertaan dalam pelayanan masyarakat, kaum hawa terjun ke lapangan dengan mempertontonkan kecantikan, disamping itu mereka juga aktif dalam lembaga swadaya masyarakat, organisasi-organisasi serta kegiatan-kegiatan masyarakat lainnya.
o Atas nama nasionalisme dan rela berkorban demi kepentingan negara, kaum hawa turut serta memimpin demonstrasi-demonstrasi, bepergian sendiri ke luar negeri untuk melanjutkan studi dan bersentuhan dengan peralatan-peralatan militer dan angkatan bersenjata.

Untuk menambah pendapatan keluarga dan menaikkan status sosial, tidak jarang pula wanita ikut bekerja di siang dan malam hari di berbagai institusi pemerintahan dan perusahaan swasta, wanita juga bekerja sampai ke luar kota bahkan hingga ke luar negeri tanpa ditemani saudara. Dan masih banyak lagi sampel kompetisi wanita dengan pria dalam dunia kerja.

Hasilnya persis seperti yang diharapkan musuh-musuh Islam berupa kehancuran infrastruktur keluarga Islam sehingga kehidupan akan semakin sulit dijalani, baik bagi suami maupun istri, anak-anak dan pendidikan mereka ditelantarkan, ikatan keluarga merenggang sehingga kondisi semakin memburuk sesuai harapan Barat. Kita tidak asing lagi mendengarkan tindak pidana dalam rumah tangga seperti kedurhakaan, penghinaan bahkan pembunuhan orang tua yang dilakukan oleh anak kandung sendiri, kekerasan, manipulasi, pembunuhan anak oleh istri maupun suami serta perselingkuhan karena salah satu pasangan mencari kesenangan di luar rumah disebabkan hilangnya cinta, kasih sayang dan ketenangan dalam rumah tangga. Inna lillah wa inna lillahi rajiun.


D. Pemaksaan Pemberlakuan Hukum Konvensional

Setelah kemenangan berturu-turut pihak kafir terhadap Turki selaku ibukota Khilafah Islamiyyah, orang Eropa sengaja mengekploitasi hak-hak istimewa yang diberikan terhadap warga asing sebagai alasan pemaksaan penerapan konstitusi hukum konvensional mereka.

Pasca usainya peperangan Rusia dan Turki pada tahun 1855 diadakan kongres gencatan senjata di Paris tahun 1856 di bawah pengawasan Inggris dan Perancis. Dalam kongres ini Turki bersedia mendirikan pengadilan campuran dan pengadilan hukum bisnis. Dari sini berawal kehancuran syariat Islam karena hukum yang diterapkan di Turki diubah dengan hukum-hukum konvensional tapi masih dengan label pemerintahan Islam .

Setelah pembangunan pengadilan ini, pada tahun 1858 diterbitkan undang-undang Pidana Utsmany yang diadopsi dari kitab undang-undang hukum Perancis. Undang-undang hukum pidana ini diterapkan juga di beberapa negeri Islam lainnya sebagai bentuk loyalitas Negara tersebut terhadap Turki seperti: di Suriah, Lebanon, Iraq, Palestina dsb. Bahkan sampai pada permulaan abad 20M hukum-hukum ini masih diterapkan di negara-negara tersebut. Majalah “Keadilan Hukum” yang dipublikasikan oleh Khilafah Utsmany demi upaya pengkodifikasian hukum muamalah dari mazhab Abu Hanifah untuk kemudian dikomparasikan dengan hukum-hukum sekuler dalam perundang-undangan Eropa. Hal itu dilakukan semenjak tahun 1869 dan khusus diterapkan di negeri Islam .

Pasca kekalahan Turki dalam Perang Dunia I, Musthafa Kemal Attaturk menerapkan beberapa hal berikut:

a. Turki harus melepaskan semua korelasi dengan Islam.
b. Penghapusan Khilafah Islamiyyah
c. Turki harus berjanji akan memadamkan semua pergerakan yang dikuasai pihak pro khilafah
d. Turki wajib menetapkan hukum sekuler sebagai pengganti hukum Utsmany yang diadopsi dari hukum Islam. Dan faktanya khilafah dihapuskan dan Turki diproklamirkan menjadi negara sekuler serta meredakan semua suara-suara sumbang yang menentang sekularisme. Turki mengadopsi konstitusi sekuler Swiss .

Adapun di negara-negara Islam lain yang tunduk pada kolonialis Eropa, (orang kafir telah menjadikan negara-negara Islam loyal terhadap prinsip-prinsip mereka bukan loyal terhadap hukum Islam, Barat telah menghilangkan naluri kemanusiaan umat disebabkan kekafiran mereka, mereka ganti posisi hukum Islam dengan hukum-hukum konvensional yang mereka kenal, mereka juga merancang program-program pendidikan, ekonomi, sosial sesuai pandangan Barat bukan atas dasar prinsip Islam, musibah besar setelah itu adalah kemunculan generasi Islam yang menolak hukum Islam serta aktif dalam menyimpangkan pemahaman orang lain sehingga –berkat keberhasilan pendidikan Barat- mereka menjudge aqidah Islam sama dengan agama nasrani yang telah dimodifikasi yaitu berupa keyakinan dalam hati dan perasaan semata tanpa perlu diaplikasikan dalam semua aspek kehidupan masyarakat, mereka beranggapan agama tidak ada kaitannya dengan realita kehidupan tapi secara spesifik agama hanya mengatur urusan ibadah saja, sama halnya dengan pemahaman agama Nasrani yang telah diselewengkan yang membagi hidup dalam dua bagian: bagian Allah yang hukumnya bersumber dari gereja dan bagian Kaisar yang hukumnya bersumber dari Kaisar) . Dengan gambaran ini, semakin jelaslah peranan kolonialisme kafir dalam peluluh lantakan syariat Islam baik oleh imperealis Inggris, Perancis, Belanda. Perbedaan hanya terletak pada frame, metodologi dan tuntutan zaman, seperti: menggunakan siasat busuk, melakukan perubahan secara halus atau dengan menggunakan cara-cara radikal dalam konfrontasi melawan pihak-pihak yang tidak setuju .

Perancis memaksakan undang-undang konvensional yang mereka buat terhadap kaum muslimin Bar-Bar di Afrika Utara melalui cara-cara pemarginalan hukum Islam dari kehidupan dengan cara-cara radikal. Sordon Sang konseptor hukum positif Perancis mengatakan: (Keberhasilan penaklukan negeri Bar-Bar adalah berkat kuatnya perlengkapan senjata Perancis, sehingga Perancis punya kebebasan dalam pemilihan undang-undang yang wajib diterapkan di negeri terjajah, jika hukum adat Bar-Bar pra Islam tidak memiliki alternatif untuk diterapkan di hadapan hukum Islam, lalu halangan apa bagi Perancis untuk melenyapkan kebiasaan Bar-Bar tersebut) . Di banyak negeri Islam, hukum Islam disingkirkan dengan kekuatan militer.

Di India penghapusan syariat Islam dilakukan secara gradual dimulai semenjak tahun 1791 sampai dihapuskan secara keseluruhan pada pertengahan abad ke-19. Undang-undang Perancis diaplikasikan di Tunisia tahun 1906, hukum konvensional diterapkan di Maroko sejak 1913, di Sudan sejak tahun 1899, di Mesir diaplikasikan pada tahun 1883 sedangkan di Irak tahun 1918. Semuanya dibawah imprealisme dan tekanan Eropa .

1. Intervensi Hukum Konvensional di Mesir

• Mesir memberikan hak-hak istimewa terhadap warga asing sebagai loyalitas terhadap Turki Utsmany.
• Pendirian mahkamah konsulat sebagai pengembangan dari hak-hak istimewa warga asing, mahkamah konsulat merujuk pada konsulat-konsulat asing di beberapa negeri Islam yang berfungsi menyelesaikan permasalahan warga Mesir dengan warga negara asing, penyelesaian masalah ini bukan berdasarkan hukum Islam. Bahkan jika terjadi naik banding dari salah satu pihak yang bertikai maka diselesaikan di pengadilan banding yang berada di luar negeri.
• Guna menyatukan pengadilan dalam negeri Mesir, Al-Khudaiwi Ismail megeluarkan keputusan baru yaitu pengubahan mahkamah konsulat ini menjadi mahkamah canpuran di bawah pengawasan pemerintah Mesir, tapi keputusan ini seolah “lepas dari mulut harimau dan masuk kemulut buaya”, semua warga asing memiliki persamaan hak di mata hukum ketika punya masalah hukum dengan orang Mesir, sayangnya mayoritas hakim didatangkan dari luar negeri sedangkan hukumnya dicopy dari undang-undang Perancis . Hal ini terjadi pada tahun 1875 setelah berkonsultasi dengan Nopar Pasya, tokoh berkebangsaan Armenia.
• Setelah penjajahan Inggris, disamping keberadaan pengadilan campuran didirikan pula pengadilan-pengadilan negeri guna menyelesaikan sengketa antara sesama warga Mesir sementara undang-undangnya merupakan adopsian dari undang-undang Perancis. Terjadi pada Nofember tahun 1883.
• Mahkamah campuran dihapuskan secara keseluruhan di Mesir pada tahun 1949.
• Pengadilan agama dihapuskan sehingga harus mengekor pada pengadilan-pengadilan negeri yang memakai hukum positif. Terjadi pada 21 September 1955 .

2. Dampak-dampak Mengkhawatirkan dari Reformasi Hukum

Hukum Islam tidak hanya mengatur permasalahan qishas dan tindak pidana saja, tapi lebih mengarah kepada pembentukan infrastruktur masyarakat yang beretika tinggi serta menjaga masyarakat tersebut dari semua bentuk dekadensi dan kemunduran. Karenanya, masyarakat Islam berhasil mewujudkan hal tersebut di bawah naungan hukum Islam selama beberapa dekade, masyarakat Islam tidak pernah menerapkan pengadaan lokalisasi, cafe yang menjual minuman keras, rumah-rumah bordil, pub malam dan diskotik karena semua itu perbuatan maksiat dan pelakunya diancam dengan hukuman yang setimpal. Di samping karena adat yang berlaku di masyarakat tidak akan tinggal diam dan akan angkat bicara terhadap pelaku perbuatan maksiat tersebut.

Namun, setelah manifestasi hukum positif Eropa bermunculan berbagai penyakit masyarakat yang menggiring masyarakat pada kehancuran etika :
a. Dampak Hukum Konvensional terhadap Demoralisasi

Kemunculan orang Eropa di negara-negara muslim berbanding lurus dengan kemunculan perilaku-perilaku maksiat bertentangan dengan etika Islam, yang menjadi penyebab adalah hilangnya naluri keagamaan yang berfungsi sebagai filter terhadap perbuatan maksiat tersebut. Kemunculan perbuatan maksiat semakin meningkat karena dukungan dari kaum penjajah, sementara hukum-hukum Eropa melarang adanya intervensi hukum terhadap perilaku individu karena anggapan melanggar privasi sehingga mereka tidak diberikan sanksi apapun sebagai konsekwensi hukum dari perbuatan mereka . Sementara Islam akan memberikan sanksi hukum terhadap perilaku kejahatan individu dan masyarakat. Perilaku kejahatan individu diatur dalam bab khusus tentang hudud (sanksi-sanksi hukum) di buku-buku fiqh Islam, sanksi hukum itu seperti terhadap pelaku zina, minuman keras, judi dan lain-lain.

Penerapan syariat Islam kian terhapus dan memudar, sedangkan yang diterapkan adalah hukum Eropa, sehingga memberikan kesempatan seluas-luasnya bagi pelaku tindak kejahatan dan pencari keuntungan walaupun dengan cara-cara yang tidak benar, akibatnya minuman keras dan berbagai kerusakan lainnya merebak dimana-mana bahkan disediakan tempat-tempat khusus. Ini merupakan permulaan transformasi besar dalam etika masyarakat, dengan melepaskan semua ikatan-ikatan Islam dan memberikan kesempatan seutuhnya untuk syahwat, karena tindak maksiat ini telah merebak dan telah menjadi kebiasaan publik sehingga dalam paradigma umum, tindakan ini tidak lagi dikategorikan dalam kemaksiatan, begitupula pandangan publik terhadap pelakunya karena berdalih kebebasan individu, sehingga sampailah masyarakat pada kondisi kehancuran moral dan dekadensi etika. Untuk mengembalikan pada kondisi semula mesti dengan penerapan kembali syariat Islam serta pengokohan kembali pemahaman terhadap masing-masing individu bahwa perbuatan-perbuatan diatas adalah kejahatan dan kemaksiatan.

b. Dampak Hukum Konvensional terhadap Kehancuran Perekonomian

Syariat Islam mengharamkan semua bentuk bunga dalam semua aktifitas muamalah seperti: pegadaian, mudharabah dan pinjaman, baik bersifat produktif maupun konsumtif. Sistem ini mampu menjauhkan umat dari beragam praktek riba, namun ketika para penyelenggara pemerintahan meminjam uang negara demi kepentingan pribadi, maka dari sini muncul cela peminjaman uang secara ribawi. Di kala kaum penjajah datang, hukum positif mereka tidak melarang adanya praktek peminjaman uang dengan cara-cara ribawi, padahal praktek ini sebelumnya terlarang secara agama dan kebiasaan masyarakat. Kondisi ini menyebabkan perpindahan kepemilikan harta dan benda-benda berharga lainnya kepunyaan umat Islam menjadi kepunyaan orang kafir sehingga hutang umat bertumpuk hingga mencapai level mereka tidak mampu melunasi. Karena tumpukan hutang umat Islam terhadap orang kafir, tanpa basa-basi mereka bebas malakukan intervensi terhadap penentuan kebijakan-kebijakan perekonomian umat demi kepentingan mereka .

c. Dampak Hukum Konvensional terhadap Pelemahan Geliat Praktek keIslaman

Hukum-hukum konvensional berusaha mengalihkan perhatian masyarakat dari hukum Islam khususnya terkait praktek non-ibadah. Seiring perjalanan waktu, pengamalan Islam semakin jauh dari kesempurnaan dan seluruh pergerakan kehidupan mengarah pada hukum-hukum positif, hal itu terefleksi dari dua orientasi:

1. Orientasi Umum

Disebabkan oleh kaitan erat kepentingan mayoritas umat Islam terhadap undang-undang konvensional Eropa, yang otomatis telah menjadi konstitusi negara dalam penyelesaian sengketa dan perselisihan mereka, pada gilirannya perhatian dan konsentrasi masyarakat beralih pada pihak-pihak yang terkait intens dengan hukum ini, baik dari kalangan pengacara, hakim, konsultan dan pakar hukum Eropa. Mereka jadi tempat konsultasi masalah hukum, sementara hukum Islam telah diasingkan dan dibatasi penerapannya pada masalah-masalah individu. Gejala ini merupakan reformasi pemikiran dan praktek yang membahayakan Islam ditambah lagi dengan penggunaan label-label reformasi, perkembangan dan kemajuan.

Seorang orientalis berkebangsan Inggris bernama Gibb dalam pengilustrasian kondisi muslim menghadapi transformasi mengkhawatirkan ini mengungkap bahwa: "Ketika seorang muslim mengadukan permasalahan pada pengadilan-pengadian agama, maka ia tidak puas terhadap jawaban pengadilan tersebut disebabkan kompleksitas permasalahan hidup mereka, tapi ia malah menemukan kepuasan ketika mengadukan permasalahan pada hukum sekuler, padahal terkadang ia sebenarnya pun tidak tahu darimana sumber hukum tersebut dan yang pasti bukan dari Al-Quran dan Sunnah yang otentik" .

2. Orientasi Khusus

Karena eratnya korelasi para mahasiswa dan kaum intelek Islam dengan wilayah otoritas pemikiran Eropa, menyebabkan mereka sibuk melakukan studi dan kajian tentang hukum-hukum positif, sibuk menguasai bahasa negara-negara Eropa dan terminologi-terminologi hukum mereka. Disamping itu, guna mengikuti perkembangan hukum merekapun harus melanjutkan studi ke ibukota-ibukota negara Eropa guna bertemu dan menimba pengetahuan seputar hukum langsung dari pakar-pakar hukum konvensional Eropa. Setelah itu mereka kembali ke tanah air guna bekerja sesuai dengan disiplin ilmu yang mereka timba selama di Eropa dan biasanya disertai dengan kebanggaan dan keterpesonaan terhadap guru-guru mereka para pakar hukum dan konstitusi negara-negara maju di Eropa.

Fakta diatas menggiring pada loyalitas terhadap konstitusi Barat sehingga para mahasiswa dan dosen sering memuji dan membanggakan pakar-pakar hukum Barat seperti: Sapini dan Austin. Buku-buku mereka dijadikan bahan mata kuliah, sebaliknya mereka malah malu dan “tidak pede” menyebut nama-nama sekaliber Abu Hanifah dan Syafi’i bahkan mereka nyaris tidak mengenal kumpulan hukum-hukum fiqh seperti: Mudawwanah karangan Imam Malik dan Kitab al-Umm karangan Imam Syafi’i. Realita lain adalah mayoritas pegawai yang bekerja di jajaran pengadilan dan badan-badan hukum ini seringkali melanjutkan karier mereka sebagai pimpinan di kantor-kantor pemerintahan dan lembaga-lembaga eksekutif negara. Dari sini jelaslah bagi kita kefatalan yang akan terjadi akibat “perang” di bidang hukum serta kehancuran dan kerusakan lain dalam cara pikir, hukum dan konstitusi .

3. Dampak Negatif Kuliah di Fakultas Hukum

Khudaiwi Ismail mendirikan sebuah sekolah hukum demi melakukan kajian hukum berpola Barat. Kebiasaan para lulusan terbaik dari sekolah hukum tersebut adalah melanjutkan studi di universitas-universitas Perancis, tempat mereka mengenyam pendidikan hukum dari pakar hukum dan konstitusi Perancis. Pendirian sekolah hukum ini beriringan dengan berdirinya pengadilan campuran dengan memanfaatkan produk-produk hukum yang diadopsi dari undang-undang Perancis. Sekolah hukum merupakan media paling utama untuk menopang, menjaga eksistensi dan tumbuh kembangnya pengadilan-pengadilan “campuran”, caranya dengan melahirkan lulusan-lulusan siap kerja di pengadilan ini. Alhasil, transformasi hukum mendapatkan rekomendasi penuh dari elemen internal negara yang akan mempertahankan dan melanjutkan penerapan hukum ini, meskipun kekuatan asing telah angkat kaki dari bumi pertiwi.

Sekolah-sekolah hukum berkembang menjadi fakultas hukum, begitupula kurikulum dan sistem kuliahnya semakin berkembang diiringi dengan transliterasi buku-buku induk masalah hukum Eropa. Pengantar yang dipakai dalam perkuliahan adalah bahasa Arab agar dapat dijadikan mata kuliah yang diajarkan secara nasional di Mesir, sedangkan cabang, pokok, filosofi, teori dan penjelasannya diadopsi dari sumber-sumber otentik Eropa dan Perancis secara lebih spesifik.

Selama masa penjajahan, pihak penjajah memberikan dukungan penuh dalam memudahkan akses bagi para lulusan fakultas hukum agar memegang jabatan-jabatan strategis dalam kehidupan berbangsa, mereka menjadi generasi andalan baru yang berkualitas dan mendapat tempat di hati banyak orang meskipun pemikiran, wawasan dan pendidikannya berpola Barat yang secara frontal berkonfrontasi dengan hukum Islam waqlaupun dalam keseharian mereka berpenampilan nasional . Kondisi ini berperan aktif dalam proses kemunduran syariat Islam berskala nasional, kemunduran ini bukan karena faktor internal syariat Islam tapi akibat dari isolasi hukum Islam, jikalau bukan karena kebutuhan masyarakat memahami hukum-hukum ibadah, maka tidak bisa dibayangkan bagaimana kesudahan dari hukum Islam kala itu. Keadaan fatal ini telah menyokong pengaplikasian hukum-hukum positif sebagai falsafah hidup karena ia telah berhasil menggantikan posisi undang-undang negara, maka negara dalam hal ini punya anggaran khusus guna melakukan regenerasi para penyelengara hukum. Tidak cukup sampai disini, pihak penjajah berupaya memodifikasi hukum Islam agar lebih mendekatkan prinsipnya dengan hukum positif dengan slogan kemajuan, padahal misi utamanya menghilangkan jurang pemisah antara dua prinsip hukum yang saling bertolak belakang dalam konsep, metodologi dan sasaran . Diantara upaya tersebut:

a. Pengkaderan generasi baru pakar-pakar hukum syariah yang memiliki kedekatan emosional dengan Barat dalam tataran pemikiran dan praktis.
b. Pengembangan Al-Azhar dengan merevisi prinsip dan pemahaman Islam yang dianut agar bisa diharmonisasikan dengan konsep Barat supaya mahasiswa Al-Azhar bisa beradaptasi dengan sekularisme praktis.
c. Penghapusan pengadilan agama dan memasukkannya ke dalam struktur pengadilan-pengadilan negeri.
d. Memasukkan mata kuliah undang-undang konvensional dalam kurikulum fakultas syariah di Universitas Al-Azhar dan menamakannya dengan fakultas “Syariah wa al-Qanun” sesuai dengan keputusan pengembangan Al-Azhar. Penamaan fakultas ini mengkombinasikan dua implikasi yang bertentangan dengan maksud mendekatkan keduanya dalam mainstream para mahasiswa, kalau tidak bagaimana mungkin kita bisa mengkomparasikan undang-undang versi manusia dengan undang-undang versi Pencipta manusia .

Pengkombinasian hukum konvensional dengan hukum Islam dalam pengajaran, sama halnya dengan menjadikan hukum konvensional sebagai hukum yang berlaku dan diakui secara implisit maupun transparan, semua ini mestinya harus ditolak Al-Azhar dan umat Islam secara umum, jika tidak berarti mereka ikut berperan dalam skenario-skenario musuh Islam yang dilancarkan semenjak dulu dan ikut merealisasikannya dalam melahirkan generasi baru hasil cetakan Al-Azhar sendiri.

Telah ditetapkan dalam syariat Islam bahwa berhukum dengan selain yang diturunkan Allah SWT adalah kufur. Firman Allah surat al-Maidah 44 berbunyi:
        
Artinya: Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir.

Dalam surat An-Nisa ayat 65:
                  
Artinya: Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, Kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.
Surat An-Nisa 60:ÃÃ
                             
Artinya: Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang mengaku dirinya telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan kepada apa yang diturunkan sebelum kamu? mereka hendak berhakim kepada thaghut, padahal mereka telah diperintah mengingkari thaghut itu. dan syaitan bermaksud menyesatkan mereka (dengan) penyesatan yang sejauh-jauhnya.

Surat Yusuf 40:
         
Artinya: Keputusan itu hanyalah kepunyaan Allah. dia telah memerintahkan agar kamu tidak menyembah selain Dia.

Dan telah ditetapkan bahwa pensyariatan merupakan hak prerogatif Allah semata dan siapa yang menjadikan selain-Nya dalam wewenang penetapan syariat berarti telah berbuat syirik. Firman Allah surat Al-Kahfi 26:
Ÿwur Û‚ÎŽô³ç„ ’Îû ÏmÏJõ3ãm #Y‰ymr&
Artinya: Dan dia tidak mengambil seorangpun menjadi sekutu-Nya dalam menetapkan keputusan.

Allah menceritakan seputar orang kafir dan hukum mentaati mereka dalam permasalahan halal dan haram. Surat Al-An’am 121 berbunyi:
÷bÎ)ur öNèdqßJçG÷èsÛr& öNä3¯RÎ) tbqä.ÎŽô³çRmQ
Artinya: Dan jika kamu menuruti mereka, sesungguhnya kamu tentulah menjadi orang-orang yang musyrik.

Firman Allah surat Asy-Syuura 21:
÷Pr& óOßgs9 (#às¯»Ÿ2uŽà° (#qããuŽŸ° Oßgs9 z`ÏiB ÉúïÏe$!$# $tB öNs9.bsŒù'tƒ ÏmÎ/ ª!$#
Artinya: Apakah mereka mempunyai sembahan-sembahan selain Allah yang mensyariatkan untuk mereka agama yang tidak diizinkan Allah?

Surat At-Taubah 31:
(#ÿrä‹sƒªB$# öNèdu‘$t6ômr& öNßguZ»t6÷dâ‘ur $\/$t/ö‘r& `ÏiB Âcrߊ «!$# yx‹Å¡yJø9$#ur šÆö/$# zNtƒö�tB !$tBur (#ÿrã�ÏBé& žwÎ) (#ÿr߉ç6÷èu‹Ï9 $Yg»s9Î) #Y‰Ïmºur ( Hw tm»s9Î) žwÎ) uqèd 4 ¼çmoY»ysö7ß™ $£Jtã šcqà2Ì�ô±ç„
Artiyna: Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allah dan (juga mereka mempertuhankan) al masih putera Maryam, padahal mereka hanya disuruh menyembah Tuhan yang Esa, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan.

Hadits yang diriwayatkan dan dihasankan Tirmidzi dari ‘Adi bin Hatim bahwasanya dia pernah mendengar nabi membaca ayat ini, lantas dia berkata pada Nabi: tapi kami sunguh tidak menyembahnya. Nabi SAW bersabda: Bukankah mereka mengharamkan perkara yang telah dihalalkan Allah SWT lantas kalian ikut mengharamkannya dan sebaliknya mereka menghalalkan perkara yang telah diharamkan Allah SWT dan kamu turut pula menghalalkannya? Maka dia menjawab: Benar wahai Rasul. Rasul kembali bersabda: itu sama artinya dengan kalian menyembah mereka.

Menurut syariat, kewajiban seorang muslim jika terjadi persengketaan dan perselisihan untuk merujuk kepada pihak yang melandaskan hukumnya pada Al-Quran dan Sunnah dari kalangan ulama. Dan dalam konteks ini, seorang muslim dilarang untuk merujuk permasalahan hukumnya pada pengadilan-pengadilan konvensional agar mereka dapat keluar dari kungkungan loyal terhadap thagut. Kalaupun ia terpaksa berada dalam posisi berhukum pada pengadilan-pengadilan konvensional maka seharusnya dia hanya mengambil yang sejalan dengan syariat dan pemahaman para ulama, bukan karena alasan validitas undang-undang konvensional tersebut .




E. Proyek Kudeta Militer Membentuk Kepemimpinan-kepemimpinan Penentang Islam

Penjajah Eropa memahami bahwa negara-negara Islam tidak akan pernah tinggal diam menyaksikan orang-orang asing memerintah mereka, meskipun dengan dalih propaganda “persahabatan” karena hegemoni asing harus angkat kaki dari negeri pertiwi, hanya saja Eropa kala itu didukung oleh kekuatan militer yang tangguh, karena bila tidak demikian niscaya dengan mudah mereka akan angkat kaki dan mencari kekuatan baru yang akan menopang agenda-agenda pemarginalan umat Islam dari agama Islam, namun syaitan memberikan solusi lain berupa penggantian kekuatan asing dengan kekuatan dalam negeri. Disana kita mengenal adanya kudeta-kudeta militer sebagai ganti dari tentara kolonialis.

Mereka kerap kali menjadikan pengalaman pahit dan kegagalan sebagai pelajaran guna menutupi kekurangan-kekurangan mereka di masa depan, seperti kesalahan yang diperbuat Kemal Attaturk dalam upaya mengadakan reformasi sosial dengan cara-cara ekstrimis dan militeristik, mereka jadikan pelajaran dengan penemuan metode baru berupa pengeksploitasian media-media informasi. Betapa dungunya Kemal Attaturk ketika ia menerapkan secara paksa aturan pelarangan pemakaian tarbus (sejenis topi bulat ringan), hal ini mengakibatkan pencopotannya dari jabatan oleh masyarakat tanpa perlu undang-undang dengan hanya memperhatikan para pejuang reformasi dan pahlawan pembaharuan tidak memakai topi tarbus ini.

Namun cara-cara tak mengenal kompromi Attaturk masih meninggalkan bekas berupa:

a. Pengekangan kekuatan oposisi khususnya jika mereka berasal dari kaum fanatisme agama.
b. Sokongan para pejuang kebathilan terhadap agenda pemarginalan umat dari Islam.

Upaya kudeta militer cukup berhasil karena dilandasi beberapa faktor:

a. Kader-kader internal pemerintahan sebagai pengganti posisi hegemoni asing diakui lebih hemat anggaran dan lebih mengurangi terjadinya pertumpahan darah bila dibanding dana yang harus dianggarkan untuk membiayai perang salib dan usaha-usaha penjajahan lain.
b. Kekuatan dalam negeri terbukti mampu meredam pemberontakan yang didasari spirit agama dan nasionalisme anak negeri yang berbeda jauh dari kondisi ketika mereka melihat kekuatan asing berusaha mengobrak-abrik nilai-nilai agama dan nasionalisme mereka.
c. Dengan mengatasnamakan nasionalisme, mereka berhasil merealisasikan agenda terselubung kekuatan asing tanpa ada perlawanan bahkan terkadang mendapat sokongan penuh dari rakyat.
d. Mereka bisa menumpas upaya-upaya pemberontakan sebagian rakyat mengingat posisi mereka sebagai pemerintahan berdaulat, sementara upaya pemberontakan dianggap sebagai usaha para pengkhianat negara yang mengancam keamanan masyarakat.
Atas dasar ini, Barat semakin yakin bahwa kekuatan-kekuatan dalam negeri yang melakukan kudeta-kudeta militer merupakan media paling efektif untuk merealisasikan misi mereka karena:

• Lebih segera menguasai tampuk pemerintahan dan kekuasaan
• Karena sistem pendidikan militer mereka mengajarkan untuk cepat tanggap terhadap perintah-perintah dari kekuatan asing.
• Dominasi mereka lebih kuat dibanding kekuatan pemberontakan lain.
• Secara khusus angkatan militer telah dipersiapkan memiliki kerangka berpikir sekuleris dan ke-Barat-baratan.
• Dengan pola pendidikan sekuleris dalam militer, mereka berhasil menyingkirkan kemungkinan munculnya kekuatan agama untuk duduk dalam pemerintahan.

Namun apakah media-media peperangan dan penjajahan telah dihapus secara total oleh Barat? Kita tidak bisa memastikan “tidak” karena meskipun perang-perang secara militeristik telah berakhir di beberapa negara, namun perang-perang ideologi dan pemikiran masih tetap berlanjut demi merontokkan aqidah dan prinsip-prinsip umat Islam dan hal ini yang diterminologikan Barat sebagai perang terbatas. Namun fakta yang lebih menyedihkan bahwa ternyata perang terbatas ini dilakoni oleh umat Islam dan orang Arab secara sadar maupun tidak.

F. Menebar Atheisme dan Ideologi-ideologi Destruktif

Sarana ini dikategorikan wasilah paling berbahaya dan berakibat fatal terhadap umat Islam di era ini. Meskipun mazhab-mazhab ini telah terbukti punya andil dalam menjatuhkan umat manusia di Timur dan Barat ke lembah kehancuran dan dekadensi hingga mencapai level kebinasaan etika walaupun maju di bidang materi, namun masih saja orang-orang yang berafiliasi terhadap Islam menganut dan meramaikan belantara mazhab-mazhab pemikiran ini sampai mendirikan organisasi-organisasi serta perkumpulan-perkumpulan yang berjalan sesuai dengan prinsip-prinsip mazhab tersebut dan lebih memberikan skala prioritas padanya dibanding konsep-konsep Islam (ihak yang menentang dicap sebagai konservatif, klasikal, nonsaintifik dsb serta mereka dianggap batu kerikil penghalang kemajuan umat). Diantara mazhab-mazhab tersebut:

a) Demokrasi
b) Sosialisme
c) Marxisme
d) Kapitalisme
e) Sekularisme
f) Nasionalisme
g) Toleransi dan Pluralisme Agama

Mazhab yang paling berkembang di negeri Arab adalah sosialisme, mazhab pemikiran ini pernah berkembang di Eropa pada abad 19 dengan frame bervariatif. Barat sengaja mengedarkan pemahaman ini di tengah-tengah generasi Islam dan memang terbukti banyak digandrungi oleh masyarakat awam, bahkan orang-orang yang mengatakan dirinya pakar keilmuan, pejuang dakwah, para pimpinan dan penguasa. Kita juga pernah dengar istilah Islam Sosialis dan dikatakan juga bahwa antara Islam dan sosialisme bersumber dari satu mata air yang sama. Sastrawan sosialis pernah memuji nabi dalam syairnya:

“Dan orang-orang Sosialis engkau lah pemimpinnya
“jikalau bukan karena propaganda kedengkian dan pengingkaran

Kita pernah dengar Sosialisme Arab serta menyaksikan mayoritas negeri Arab dan negara-negara Islam pada umumnya pernah digiring pada komunisme dalam beberapa selang waktu pasca kemerdekaan seperti: Mesir, Suriah, Libya, Iraq, Sudan dan Somalia. Propaganda Nasionalisme Arab terkait erat dengan pemikiran sosialis. Ideologi sosialis dan komunis meskipun sudah tidak terlalu terdengar gaungannya pasca runtuhnya Uni Sovyet yang merupakan benteng pusat aliran Komunisme, namun bekas-bekas komunisme masih melekat pada ideologi beberapa partai-partai politik.
NB: Mengingat begitu urgennya memahami kefatalan ideologi-ideologi pemikiran ini, penulis akan mencoba secara ringkas menjelaskan permasalahan-permasalahan pokok disertai sisi-sisi penyimpangan ideologi-ideologi ini terhadap Islam.





Simplex Magazine2

Aliquam erat volutpat. Ut wisi enim ad minim veniam, quis nostrud exerci tation ullamcorper suscipit lobortis nisl ut aliquip ex ea commodo consequat.